Ketika masanya pohon enggan lagi bertahan atas semua yang dimiliki. Hingga daun-daun yang menjadi milik pohon, rela mengugurkan dirinya demi melepas suatu hal yang membuat mereka sebenarnya nyaman. Namun sayang bermain dizona nyaman membuat para daun hanya bercengkrama dengan langit tanpa menghiraukan tanah.
Hingga pada waktunya para daun sadar bersama pohon dan bercengkrama dengan langit tak selamnya indah. Terkadang langit dengan seenaknya munurunkan hujan tanpa izin , hingga satu persatu para daun terhempas begitu saja. Bukan hanya itu terkadang sapaan angin menyapa dengan angkuhnya membuat para daun terobek begitu saja.
Maka para daun pun hanya bisa pasrah terhempas begitu saja dari zona nyaman, dan kini para daun hanya bisa bercengkrama dengan tanah menjadi saksi atas setiap langkah jejak kepergiaan ku.
Kepergiaan yang sebenarnya bukan maksudku terlebih niatku. Hal tersebut karena aku hanya ingin mengalah bahwa zona nyaman memang sudah lagi tak berpihak untuk ku. Aku tak ingin memaksakan setiap langkah jejak ku berada dalam zona nyaman , karena aku sadar zona nyaman membuat ku sulit berkembang. Zona nyaman membuat ku mengabaikan waktu , dan zona nyaman membuat ku menjadi manusia angkuh tanpa peduli terhadap sekitar.
Kini bagiku setiap langkah kepergiaan ku dari zona nyaman bukan sebuah penyelasan melainkan sebuh gerbang untuk melihat yang lebih indah dari yang telah ku ketahui bahkan ku miliki. Bukan berarti aku tak bersyukur namun karena aku yakin Tuhan mempunyai keindahan yang lebih indah dan tak terhitung.
#SebatangAir
Entri Populer
-
Datang dan pergi hal yang sangat melumpuhkan perasaan , membuat ketidakberdayaan , dan hal yang dapat mengotak-atikan rasa namun sudah ...
-
Aku tak paham apa yang sedang aku rasakan Terkadang aku berpikir aku bahagia namun nyatanya aku tak merasakan kebahagiaan itu Terka...
-
2.232 hari entah itu menjadi rangkaian cerita ya harus selalu ku pertahankan atau ku hentikan layaknya sapaan angin yang tak dirindukan o...
-
Ada banyak hal yang tak semestinya dijawab Ada juga banyak hal yang tak semestinya di risaukan Namun entahlah, Apa aku yang...
Kamis, 11 Mei 2017
Bercermin
Sebagian manusia sibuk mengkritisi atau menilai dan menghakimi kehidupan orang lain ,
tanpa pernah bercermin dirinya seperti apa.
Membicarakan takaran pendidikan dan agama namun dirinya pun masih belum memahami pendidikan seperti apa , bahkan ironisnya mereka seenaknya menilai sesuatu dengan agama , namun diri sendirinya belum bisa menjalankan perintah agama dengan benar bahkan untuk perintah agama seperti solat pun jarang mereka jalanin.
Jadi tolong sebelum anda mengkritisi, menilai ataupun menghakimi seseorang , keluarga, ataupun golongan hendaknya anda bercermin untuk pantaskan anda berbuat seperti itu ?
Jangan sok asik , sok tau , bahkan sok paling "iya benar" dalam menilai bahkan menghakimi , memang benar era sekarang adalah era bebas berpendapat , tapi bukan berarti untuk menilai dan menghakimi adalah sebuah kebebasan. Karena hal tersebut butuh pembuktian , dan karena setiap manusia itu bukan mahkhluk suci , tapi manusia itu mahkluk yang mulia yang diciptakan Tuhan dengan akal penalaran dan hati nurani. Jadi tolong gunakan akal penalaran dan hati nurani tersebut dengan cermat.
#SebatangAir
Langganan:
Komentar (Atom)

